pernah berfikir sempit untuk pergi atau mati
terlalu melankolis memang, tapi juga terlalu capek memendam...
mungkin selama ini terlalu lama merapatkan mulut meskipun hati perih,
atau hanya bisa menggigit bibir saat emosi mulai memuai
saat sebuah ungkapan pemikiran dianggap sebuah pembantahan
dan mau tak mau harus rela meng-IYA kan semuanya hanya gara-gara kalah suara...
manusia-manusia...
terkadang terlalu berpikir dengan prespektif yang aneh...
pendapat mayoritas selalu menggusur minoritas dengan mudahnya
dan melupakan sebuah konteks sederhana yang bernama 'MENGHARGAI'
anehnya lagi mengapa sebuah umur tua selalu menjadi patokan menarik sebuah prespektif?
apakah orang muda tak penting? atau orang yang lebih muda selalu salah?
hei... apa salahnya mendengarkan dari 2 sisi..
mendengarkan luapan hati orang-orang muda yang selalu terpendam...
kalau saja aku punya banyak keberanian, aku ingin memberontak
sayangnya aku terlalu lembek memulai
diam itu terkadang menyakitkan, tapi ketika berbicara rasanya percuma
toh tak pernah dianggap ada...
hanya seperti pemandu sorak yang bisanya meramaikan tak berperan primer
mereka semuanya...
orang-orang egois yang selalu berharap permintaan maaf yang sebetulnya tak perlu
hei berkacalah ! lalai dengan semua kesalahan''mu yang hanya bisa aku pendam dalam diam???
jujur...
aku tak perlu maaf, toh tak ada yg perlu dimaafkan,
hanya ingin satu... AKU INGIN DIHARGAI? SULIT?
sebuah prespektif permainan konyol yang menonjolkan keegoisan manusia yang berakal lampau...
mayoritas-minoritas...
ketimpangan gila yang mampu mempengaruh semuanya...
ha ha ha gila!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar